Makalah pro dan kontra bahasa gaul di kalangan remaja
PRO DAN KONTRA BAHASA GAUL DI KALANGAN REMAJA
Disusun untuk memenuhi Tugas mata kuliah Berbicara Dialektif
Dosen Pengampu : Syaiful Abid, M.Pd
Disusun Oleh :
Refi Indri Hasanah 2019002
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP PGRI) LUBUKLINGGAU
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya hanturkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini dapat selesai dengan tepat waktu. Rasa terimakasih kami ucapkan kepada Dosen Pengampu Bapak Syaiful Abid, M.Pd yang selalu memberikan dukungan serta bimbingannya sehingga makalah ini dapat disusun dengan baik.
Saya berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan para pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Namun terlepas dari hal itu, saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi.
Tebing Tinggi, 3 April 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Bahasa Gaul 2
Fenomena Bahasa Gaul 3
Dampak dari penggunaan Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja 5
Solusi Mengatasi Pergeseran Bahasa Indonesia dari Bahasa Gaul
Di Kalangan Remaja 7
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 8
Saran 8
DAFTAR PUSTAKA 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa merupakan Instrumen penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa kita bisa berkomunkasi satu sama lain. Meski seolah-olah bahasa itu tidak penting tetapi, adalah mustahil manusia hidup tanpa bahasa. Oleh karena demikian berartinya sebuah bahasa sehingga perlu untuk menghormati dan menjunjung tinggi bahasa, seperti yang tercantum dalam Sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang berbunyi "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Lalu bagaimana kita menghormati bahasa khususnya Bahasa Indonesia? Mengingat pada jaman post modern sekarangini, pengaruh globalisasi demikian dahsyat, termasuk pengaruh berbahasa dalam kehidupan sehari-hari atau bahasa informal. Dalam perkembangannya ada berbagai istilah yang digunakan untuk menamakan bahasa informal yang nyeleneh , misalnya “Bahasa Gaul” kemudian belakangan ini ada istilah “Bahasa Alay”.Penggunaan bahasa alay terutama digunakan oleh anak ABG atau remaja. Para remaja biasanya menggunakan bahasa alay ini dalam ragam lisan dan ragam tulis, atau juga dalam ragam berbahasa dengan menggunakan media tertentu, misalnya, berkomunikasi dalam jejaring sosial.Penggunaan bahasa alay telah dikritik oleh beberapa pecinta Bahasa, meski sampai saat ini masih pro dan kontra. Sebagian dari kita ada yang antipati terhadap bahasa alay karena bahasa Indonesia dianggap mulai rapuh dirongrong dengan penggunaan bahasa alay maupun bahasa gaul.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian bahasa gaul
2. Fenomena bahasa gaul di kalangan remaja
3. Dampak dari penggunaan bahasa gaul terhadap bahasa indonesia di kalangan remaja
4. Solusi mengatasi pergeseran bahasa Indonesia dari bahasa gaul di kalangan remaja
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui apa saja dampak yang terjadi akibat penggunaan bahasa gaul
2. Untuk mengetahui solusi mengatasi pergeseran bahasa Indonesia dari baasa gaul di kalangan remaja
3. Untuk mengetahui penjelasan tentang bahasa gaul
4. Untuk mengetahui fenomena bahasa gaul di kalangan remaja
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bahasa Gaul
Istilah bahasa gaul baru muncul beberapa tahun terakhir. Saya kira baru sesudah reformasi (1998), digunakan untuk menyebut bahasa yang dipergunakan oleh anak-anak muda seperti yang biasa kita dengar di sinetron-sinetron atau dalam percakapan antaranak muda, atau ketika mereka diwawancara.
Dalam bahasa gaul kita perhatikan banyak sekali pengaruh bahasa Jakarta. Kata ganti orang pertama dan kedua, menggunakan bahasa Cina yang sudah menjadi bahasa Jakarta yaitu gua (gue) dan lu (elo). Meskipun tidak banyak yang menggunakan bunyi “a” dengan “e” pada akhir kata seperti orang Betawi, tetapi perbendaharaan kata Jakarta banyak sekali digunakan. Begitu juga pembentukan kata jadian, sering mengikuti bahasa Jakarta, atau menggunakan akhiran “in” untuk akhiran “kan” dalam bahasa Indonesia baku. Kata “mencuri” jadi “nyuri”, atau “maling”, kata “bersembunyi” jadi “ngumpet”, kata “mendekati” jadi “nyamperin”, kata “memikirkan” menjadi “mikirin”, dan semacamnya.
Sebab, bahasa gaul baru muncul sejak kira-kira 1998, maka dalam kamus-kamus pun tidak tercantum sebagai entri. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) susunan Badudu-Zain yang pertama kali terbit 1994, entri bahasa gaul tidak ada. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) entri bahasa gaul baru tercantum dalam edisi keempat (2008). Dalam edisi sebelumnya belum ada.
Menurut KBBI edisi keempat itu, bahasa gaul artinya “dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk pergaulan”. Sementara “pergaulan” menurut KBBI itu, juga artinya “n 1 perihal bergaul; 2 kehidupan bermasyarakat; — memengaruhi kepribadian”. Artinya, kalau keterangan tentang bahasa gaul itu disesuaikan dengan keterangan tentang arti “pergaulan”, akan berbunyi “dialek bahasa Indonesia nonformal, yang digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk perihal bergaul; atau untuk kehidupan bermasyarakat.”
Akan tetapi, yang jelas kita alami sekarang bahwa bahasa gaul itu tidak hanya digunakan dalam kelompok tertentu atau di daerah tertentu. Dengan digunakannya dalam sinetron-sinetron dan pada wawancara yang disiarkan oleh televisi secara nasional, maka bahasa gaul digunakan secara luas dalam masyarakat. Menurut keterangan yang pernah saya dengar, BBC di London hanya menyiarkan bahasa Inggris baku, bahasa gaul seperti yang umpamanya terdengar dalam percakapan sehari-hari orang London sekalipun, tidak boleh disiarkan oleh BBC. Akan tetapi, stasiun-stasiun televisi di Indonesia boleh menyiarkan bahasa gaul secara bebas, sehingga akan besar pengaruhnya kepada pemakaian bahasa sehari-hari masyarakat yang banyak mendengarkan siaran-siarannya.
Bahasa gaul juga sekarang digunakan oleh para pemasang iklan. Bukan yang dimuat dalam surat-surat kabar atau majalah, melainkan yang dipasang di mana-mana di pinggir jalan atau melintang di atas jalan. Misalnya ada iklan yang mempergunakan kata lebay yang tak dapat saya tangkap artinya. Kata lebay yang saya ketahui, artinya pejabat kaum (agama Islam), yang sering ditulis sebagai lebe. Misalnya ada cerita terkenal yang judulnya “Si Lebai Malang” tentang orang yang selalu bernasib sial. Mungkin karena iklan itu ditujukan kepada kelompok masyarakat pemakai bahasa gaul – dan saya tidak termasuk ke dalamnya – maka tidak saya pedulikan. Akan tetapi, dengan meluasnya penggunaan bahasa gaul niscaya perbendaharaan kata bahasa gaul seperti itu akan meluas dan akhirnya menjadi perbendaharaan bahasa baku juga. Apalagi, karena bahasa gaul secara leluasa digunakan dan disiarkan melalui televisi, yang sekarang sudah masuk ke pelosok-pelosok paling jauh. Sementara pembelajaran bahasa nasional di sekolah-sekolah sangat tidak memadai, ditambah oleh rendahnya minat baca buku-buku karya sastra yang dapat dijadikan contoh pemakaian bahasa Indonesia yang baik, maka tidak mustahil dalam waktu dekat bahasa gaul akan menjadi bahasa pergaulan masyarakat seluruh Indonesia secara umum. Artinya, lama-lama akan menggantikan apa yang sekarang disebut bahasa baku, karena orang kian sulit dan kian jarang bertemu dengan bahasa baku. Perhatikan saja bahasa yang dipergunakan oleh para anggota DPR, pada sidang-sidang terbuka Pansus Bank Century yang disiarkan melalui televisi. Kebanyakan anggota cenderung menggunakan bahasa gaul daripada bahasa Indonesia baku. Menurut paham sebagian ahli bahasa, kalau bahasa sudah diterima dan digunakan oleh masyarakat secara luas, maka bahasa itu menjadi sah sebagai sarana perhubungan masyarakat. Artinya, apa yang sekarang disebut sebagai bahasa gaul kelak akan menjadi bahasa baku.
B. Fenomena Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja
Bahasa dikenal sebagai alat utama dalam berkomunikasi antar- sesama bertujuan agar pesannya dapat tersampaikan dengan baik. Negara kita sendiri mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan nasional yakni bahasa persatuan antar masyarakatnya yang majemuk. Kecenderungan masyarakat khususnya para pelajar menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari semakin tinggi. Bahkan yang lebih parah makin berkembangnya bahasa slank atau bahasa gaul yang mencampuradukkan bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Bahasa gaul merupakan bahasa anak-anak remaja gaul yang biasa digunakan sebagai bahasa sandi. Bahasa ini mulai dikenal dan digunakan sekitar tahun 1970 yang awalnya dikenal sebagai bahasanya anak jalanan / bahasa preman karena biasanya digunakan oleh para Prokem (sebutan untuk para preman) sebagai kata sandi yang hanya dimengerti oleh kelompok mereka sendiri. Tetapi bahasa prokem tersebut semakin berkembang dan mulai dimengerti oleh kalangan diluar kelompok preman dan anak jalanan karena seringnya mereka menggunakan bahasa sandi tersebut di tempat-tempat umum.
Bahasa gaul atau bahasa prokem terus berkembang dari masa ke masa. Ada sebagian kata yang diperkenalkan sejak tahun 1970an dan hingga kini masih sering dipakai. Namun tidak sedikit kata-kata itu sudah tidak dikenal lagi dan berganti dengan istilah lain yang lebih unik dan aneh. Kata-kata tersebut bisa berasal dari bahasa daerah yang dipelesetkan artinya selain itu terkadang ada kata-kata tertentu diganti atau diubah redaksi katanya agar terdengar unik dan lucu.
Bahasa gaul saat ini memang telah menjadi fenomena dikalangan para generasi muda, bukan hanya dalam kelompok remaja kota tetapi remaja dipelosok pun telah mengenal bahasa gaul ini seakan menjadi sebuah tren di kalangan remaja ataupun dewasa. Sementara dipihak lain, para orang tua dan kalangan dewasa mengeluhkan tata dan tutur bahasa anak-anak mereka yang semakin sulit dimengerti, jauh dari penggunaan tata bahasa yang baik serta terkesan serampangan.
Arus globalisasi dan modernisasi memang tidak selamanya memberikan dampak positif bagi masyarakatnya, akan selalu ada efek negatif dalam proses perkembangan salah satunya bisa jadi bahasa gaul ini. Kita tahu bahwa bahasa gaul berasal dari bahasa-bahasa sandi yang secara sengaja dibuat oleh para kelompok anak jalanan, preman dan waria yang pastinya untuk menghindari orang di luar mereka mengerti apa yang diperbincangkan. Namun, hal tersebut semakin lama semakin berkembang hingga menjadi bahasa gaul seluruh kalangan remaja. Jika hanya sampai disitu mungkin bahasa yang disebut bahasa gaul ini tidak sefenomenal yang kita alami saat ini, tetapi perkembangan teknologi telah menjadi media utama dalam proses penyebaran bahasa gaul. Jejaring sosial yang semakin berkembang saat ini, yang diawali dari sebuah send message short (sms) hingga akun facebook, twitter, dll telah mengiringi penyebaran dan perkembangan bahasa gaul, bukan saja melalui pelafalan tetapi penulisannya pun semakin membingungkan dan terlihat mengerikan, mengapa demikian? Ketika sebuah kalimat terdiri dari penggabungan huruf dan angka tetapi mampu dimengerti oleh mereka,misalnya ingin menuliskan “kemarin kemana aja?”akan ditulis menjadi “k3m4r1n k3m4n3 aj4h? “ bukankah ini merupakan hal yang luar biasa namun sekaligus sangat mengecewakan, ini sebenarnya bukanlah sebuah kebanggaan tetapi kebobrokan generasi muda saat ini yang terbukti suka menyalai aturan dan tidak menghargai bahasanya sendiri. Lingkungan sekolah atau lingkungan pendidikan pastinya akan mengajarkan kepada siswa atau pelajarnya tentang ketatabahasaan yang baik dan benar. Namun kenyataannya para pelajar tersebut tetap keluar dari penggunaan bahasa yang baik dan benar. Banyak yang mengatakan penggunaan bahasa Indonesia yang diajarkan disekolah atau lingkungan pendidikan terkesan kaku dan formal, akhirnya para remaja mencoba keluar dari kekakuan bahasa ini yaitu menggunan bahasa gaul. Mengingat semakin berkembangnya arus komunikasi, maka siswa telah mengesahkan pemakaian bahasa gaul di setiap situasi dan tidak memperhatikan keadaan dengan siapa dan dimana mereka menggunakan bahasa tersebut, kalau hal itu sampai dibiarkan terus terjadi, maka sikap kesopanan bahasa sebagai bentuk kesopanan terhadap oang yang lebih tua sering terabaikan. Kurangnya kesadaran untuk mencintai bahasa di negeri sendiri berdampak pada lunturnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya dalam masyarakat terutama di kalangan remaja. Apalagi maraknya kalangan artis menggunakan bahasa gaul di media massa dan elektronik, membuat remaja semakin sering menirunya di kehidupan sehari-hari hal ini sudah menjadi hal wajar karena remaja umumnya suka meniru hal-hal yang baru terlebih jika menyangkut kehidupan para publik figur. Menyesuaikan bahasa dengan lingkungan dan kelompok apa lawan bicara kita merupakan hal utama dalam menjalin komunikasi yang baik, karena bagaimanapun fungsi bahasa adalah sebuah media untuk menyampaikan pesan antar komunikan dan komunikator.
Sekalipun demikian, bahasa persatuan bangsa kita adalah bahasa Indonesia bukan bahasa gaul maka mulailah dari diri sendiri untuk membudayakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam lingkungan.
C. Dampak Dari Penggunaan Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja
Bahasa gaul adalah Bahasa non resmi yang digunakan oleh kalangan tertentu ,sifatnya sementara,bahasa gaul digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelmpok usia lain agar pihak lain tidak mengetahui apa yang sedang di bicarakan. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para anak jalanan. Disebabkan dari arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Masa remaja memiliki karakteristik antara lain petualangan, pengelompokan, dan kenakalan. Ciri ini tercermin juga dalam bahasa mereka. Keinginan untuk membuat kelompok eksklusif menyebabkan mereka menciptakan bahasa rahasia. Serta Banyak diantara kalangan remaja menggunakan bahasa Gaul dan sering menyingkat kata-kata dalam kehidupan sehari-hari.Hal tersebut membuat Peranan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar sedikit bekembang baik dari segi budaya dan perilaku . Para responden mengakui bahwa penggunaan bahasa gaul hanya digunakan oleh teman-teman sebayanya dan orang-orang terganggu. Pasalnya,Banyak remaja dimasa sekarang mengikuti zaman yang semakin disekitar yang sering menggunakan bahasa gaul saat berbicara. Para responden hanya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dengan orang yang lebih tua. Pengaruh Bahasa Gaul terhadap tatanan bahasa Indonesia adalah perkembangan jaman modernisasi ,dimana segala hal yang ada dikalangan pelajar yang selalu ter up-to date. Tren penggunaan bahasa gaul yang diilhami dari pelaku tokoh masyarakat misalnya artis. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Indonesia yang di campur dengan bahasa inggris yang bertujuan agar seseorang dianggap modern. Maraknya penggunaan bahasa gaul dalam pesan singkat,hal ini secara tidak langsung mempengaruhi penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dikalangan remaja Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih Cpendek seperti ‘permainan-mainan, pekerjaan-kerjaan.
C. Faktor – Faktor Pendukung Maraknya Penggunaan Bahasa Gaul di Kalangan Remaja
Perkembangan bahasa Gaul di kalangan remaja sangatlah cepat karena didukung oleh beberapa faktor yang cukup berpengaruh terhadap kondisi lingkungan remaja. Antara lain :
Menjamurnya internet dan situs-situs jejaring sosial yang berdampak signifikan terhadap perkembangan bahasa gaul. Misalnya, facebook, twitter, friendster. Karena pengaruh lingkungan. Umumnya para remaja menyerap dari percakapan orang-orang dewasa di sekitarnya, baik teman sebaya atau keluarga. Peran media (elektronik) yang menggunakan istilah bahasa Gaul dalam film-film khusunya film remaja dan iklan, semisal dari adegan percakapan di televisi. Bahasa gaul tidak hanya dari kontak langsung, tapi sebagian besar karena “disuapi” oleh media. Media cetak, misalnya bahasa yang ada dalam majalah, surat kabar, koran, cerpen atau novel yang umumnya menggunakan bahasa gaul.
Dampak perkembangan zaman, di mana segala hal yang ada di lingkungan kita harus selalu ter up-to date. Dilihat dari cara bertutur kata atau dalam pemakaian bahasa, dewasa ini munculnya “Bahasa Gaul” sangat fenomenal terutama terlihat pada kalangan masyarakat (remaja). Mereka ingin diakui sebagai remaja jaman sekarang yang gaul, funky, dan keren.
D. Solusi Mengatasi Pergeseran Bahasa Indonesia dari Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja
Pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan nyata maupun fiksi mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa gaul. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan bahasa indonesia sebagai identitas bangsa. Dalam upaya untuk mengurangi pemakaian bahasa gaul sebagai alat komunikasi dalam masyarakat diperlukan suatu strategi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut, diantaranya sebagai berikut:
1. Kepedulian pemerintah terhadap perkembangan bahasa Indonesia Kadang-kadang bahasa yang disuluhkan oleh pembicara dari pusat bahasa tidak dipedulikan oleh pemerintah negeri kita. Oleh karena itu, terdapat kontroversi anatara norma bahasa yang dikumandangkan oleh pusat bahasa dengan kenyataan di lapangan. Kiranya sifat eksklusivisme dalam penggunaan bahasa Indonesia sebaiknya dipertimbangkan kembali. Kepedulian pemerintah bukan saja kemudahan mendapatkan fasilitas, melainkan juga kepedulian dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Jika kepedulian pemerintah baik di pusat maupun di daerah dapat ditingkatkan, pembinaan dan pelestarian bahasa Indonesia dapat kita wujudkan. Salah satu yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah perlunya merancang undang-undang tentang pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar serta melakukan pengindonesiaan nama atau kata asing.
2. Kesadaran diri untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar Pepatah lama mengatakan, “bahasa menunjukan bangsa”, maka untuk mengetahui dan mewujudkan identitas bangsa, kita harus menjunjung tinggi bahasa nasional. Untuk mengatsi pergeseran bahasa Indonesia yang sudah parah diperlukan usaha bersama oleh semua pihak agar menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Sebagai generasi muda kita harus menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia. Banyak bangsa lain yang merasa iri dan terkagum-kagum terhadap bangsa kita karena memiliki bahasa persatuan yaitu Indonesia. Ini merupakan salah satu jati diri asli bangsa Indonesia. Maka dari itu, kita harus menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kesadaran tersebut harus kita tanam mulai dari diri kita. Akhirnya marilah mulai tumbuhkan kembali kesadaran dalam diri masing-masing untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baku tanpa mencampuradukan dengan bahasa asing.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara umum, Penggunaan bahasa alay terutama digunakan oleh anak ABG atau remaja. Para remaja biasanya menggunakan bahasa alay ini dalam ragam lisan dan ragam tulis, atau juga dalam ragam berbahasa dengan menggunakan media tertentu, misalnya, berkomunikasi dalam jejaring sosial. Juga berdampak negatif terhadap bahasa indonesia karena lambat laun dapat menggeser bahasa kesatuan yaitu bahasa Indonesia.
B. Saran
Dari kesimpulan di atas, para remaja dan anak muda harus bisa menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidahnya dalam kehidupan sehari-hari agar bahasa Indonesia tetap terjaga dan tidak bergeser secara perlahan.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.kompasiana.com/mertamupu.co.id/5519fe30a33311f51db6592a/pro-kontra-bahasa-alay
Disusun untuk memenuhi Tugas mata kuliah Berbicara Dialektif
Dosen Pengampu : Syaiful Abid, M.Pd
Disusun Oleh :
Refi Indri Hasanah 2019002
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP PGRI) LUBUKLINGGAU
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya hanturkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini dapat selesai dengan tepat waktu. Rasa terimakasih kami ucapkan kepada Dosen Pengampu Bapak Syaiful Abid, M.Pd yang selalu memberikan dukungan serta bimbingannya sehingga makalah ini dapat disusun dengan baik.
Saya berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan para pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Namun terlepas dari hal itu, saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi.
Tebing Tinggi, 3 April 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Bahasa Gaul 2
Fenomena Bahasa Gaul 3
Dampak dari penggunaan Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja 5
Solusi Mengatasi Pergeseran Bahasa Indonesia dari Bahasa Gaul
Di Kalangan Remaja 7
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 8
Saran 8
DAFTAR PUSTAKA 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa merupakan Instrumen penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa kita bisa berkomunkasi satu sama lain. Meski seolah-olah bahasa itu tidak penting tetapi, adalah mustahil manusia hidup tanpa bahasa. Oleh karena demikian berartinya sebuah bahasa sehingga perlu untuk menghormati dan menjunjung tinggi bahasa, seperti yang tercantum dalam Sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang berbunyi "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Lalu bagaimana kita menghormati bahasa khususnya Bahasa Indonesia? Mengingat pada jaman post modern sekarangini, pengaruh globalisasi demikian dahsyat, termasuk pengaruh berbahasa dalam kehidupan sehari-hari atau bahasa informal. Dalam perkembangannya ada berbagai istilah yang digunakan untuk menamakan bahasa informal yang nyeleneh , misalnya “Bahasa Gaul” kemudian belakangan ini ada istilah “Bahasa Alay”.Penggunaan bahasa alay terutama digunakan oleh anak ABG atau remaja. Para remaja biasanya menggunakan bahasa alay ini dalam ragam lisan dan ragam tulis, atau juga dalam ragam berbahasa dengan menggunakan media tertentu, misalnya, berkomunikasi dalam jejaring sosial.Penggunaan bahasa alay telah dikritik oleh beberapa pecinta Bahasa, meski sampai saat ini masih pro dan kontra. Sebagian dari kita ada yang antipati terhadap bahasa alay karena bahasa Indonesia dianggap mulai rapuh dirongrong dengan penggunaan bahasa alay maupun bahasa gaul.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian bahasa gaul
2. Fenomena bahasa gaul di kalangan remaja
3. Dampak dari penggunaan bahasa gaul terhadap bahasa indonesia di kalangan remaja
4. Solusi mengatasi pergeseran bahasa Indonesia dari bahasa gaul di kalangan remaja
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui apa saja dampak yang terjadi akibat penggunaan bahasa gaul
2. Untuk mengetahui solusi mengatasi pergeseran bahasa Indonesia dari baasa gaul di kalangan remaja
3. Untuk mengetahui penjelasan tentang bahasa gaul
4. Untuk mengetahui fenomena bahasa gaul di kalangan remaja
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bahasa Gaul
Istilah bahasa gaul baru muncul beberapa tahun terakhir. Saya kira baru sesudah reformasi (1998), digunakan untuk menyebut bahasa yang dipergunakan oleh anak-anak muda seperti yang biasa kita dengar di sinetron-sinetron atau dalam percakapan antaranak muda, atau ketika mereka diwawancara.
Dalam bahasa gaul kita perhatikan banyak sekali pengaruh bahasa Jakarta. Kata ganti orang pertama dan kedua, menggunakan bahasa Cina yang sudah menjadi bahasa Jakarta yaitu gua (gue) dan lu (elo). Meskipun tidak banyak yang menggunakan bunyi “a” dengan “e” pada akhir kata seperti orang Betawi, tetapi perbendaharaan kata Jakarta banyak sekali digunakan. Begitu juga pembentukan kata jadian, sering mengikuti bahasa Jakarta, atau menggunakan akhiran “in” untuk akhiran “kan” dalam bahasa Indonesia baku. Kata “mencuri” jadi “nyuri”, atau “maling”, kata “bersembunyi” jadi “ngumpet”, kata “mendekati” jadi “nyamperin”, kata “memikirkan” menjadi “mikirin”, dan semacamnya.
Sebab, bahasa gaul baru muncul sejak kira-kira 1998, maka dalam kamus-kamus pun tidak tercantum sebagai entri. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) susunan Badudu-Zain yang pertama kali terbit 1994, entri bahasa gaul tidak ada. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) entri bahasa gaul baru tercantum dalam edisi keempat (2008). Dalam edisi sebelumnya belum ada.
Menurut KBBI edisi keempat itu, bahasa gaul artinya “dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk pergaulan”. Sementara “pergaulan” menurut KBBI itu, juga artinya “n 1 perihal bergaul; 2 kehidupan bermasyarakat; — memengaruhi kepribadian”. Artinya, kalau keterangan tentang bahasa gaul itu disesuaikan dengan keterangan tentang arti “pergaulan”, akan berbunyi “dialek bahasa Indonesia nonformal, yang digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk perihal bergaul; atau untuk kehidupan bermasyarakat.”
Akan tetapi, yang jelas kita alami sekarang bahwa bahasa gaul itu tidak hanya digunakan dalam kelompok tertentu atau di daerah tertentu. Dengan digunakannya dalam sinetron-sinetron dan pada wawancara yang disiarkan oleh televisi secara nasional, maka bahasa gaul digunakan secara luas dalam masyarakat. Menurut keterangan yang pernah saya dengar, BBC di London hanya menyiarkan bahasa Inggris baku, bahasa gaul seperti yang umpamanya terdengar dalam percakapan sehari-hari orang London sekalipun, tidak boleh disiarkan oleh BBC. Akan tetapi, stasiun-stasiun televisi di Indonesia boleh menyiarkan bahasa gaul secara bebas, sehingga akan besar pengaruhnya kepada pemakaian bahasa sehari-hari masyarakat yang banyak mendengarkan siaran-siarannya.
Bahasa gaul juga sekarang digunakan oleh para pemasang iklan. Bukan yang dimuat dalam surat-surat kabar atau majalah, melainkan yang dipasang di mana-mana di pinggir jalan atau melintang di atas jalan. Misalnya ada iklan yang mempergunakan kata lebay yang tak dapat saya tangkap artinya. Kata lebay yang saya ketahui, artinya pejabat kaum (agama Islam), yang sering ditulis sebagai lebe. Misalnya ada cerita terkenal yang judulnya “Si Lebai Malang” tentang orang yang selalu bernasib sial. Mungkin karena iklan itu ditujukan kepada kelompok masyarakat pemakai bahasa gaul – dan saya tidak termasuk ke dalamnya – maka tidak saya pedulikan. Akan tetapi, dengan meluasnya penggunaan bahasa gaul niscaya perbendaharaan kata bahasa gaul seperti itu akan meluas dan akhirnya menjadi perbendaharaan bahasa baku juga. Apalagi, karena bahasa gaul secara leluasa digunakan dan disiarkan melalui televisi, yang sekarang sudah masuk ke pelosok-pelosok paling jauh. Sementara pembelajaran bahasa nasional di sekolah-sekolah sangat tidak memadai, ditambah oleh rendahnya minat baca buku-buku karya sastra yang dapat dijadikan contoh pemakaian bahasa Indonesia yang baik, maka tidak mustahil dalam waktu dekat bahasa gaul akan menjadi bahasa pergaulan masyarakat seluruh Indonesia secara umum. Artinya, lama-lama akan menggantikan apa yang sekarang disebut bahasa baku, karena orang kian sulit dan kian jarang bertemu dengan bahasa baku. Perhatikan saja bahasa yang dipergunakan oleh para anggota DPR, pada sidang-sidang terbuka Pansus Bank Century yang disiarkan melalui televisi. Kebanyakan anggota cenderung menggunakan bahasa gaul daripada bahasa Indonesia baku. Menurut paham sebagian ahli bahasa, kalau bahasa sudah diterima dan digunakan oleh masyarakat secara luas, maka bahasa itu menjadi sah sebagai sarana perhubungan masyarakat. Artinya, apa yang sekarang disebut sebagai bahasa gaul kelak akan menjadi bahasa baku.
B. Fenomena Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja
Bahasa dikenal sebagai alat utama dalam berkomunikasi antar- sesama bertujuan agar pesannya dapat tersampaikan dengan baik. Negara kita sendiri mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan nasional yakni bahasa persatuan antar masyarakatnya yang majemuk. Kecenderungan masyarakat khususnya para pelajar menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari semakin tinggi. Bahkan yang lebih parah makin berkembangnya bahasa slank atau bahasa gaul yang mencampuradukkan bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Bahasa gaul merupakan bahasa anak-anak remaja gaul yang biasa digunakan sebagai bahasa sandi. Bahasa ini mulai dikenal dan digunakan sekitar tahun 1970 yang awalnya dikenal sebagai bahasanya anak jalanan / bahasa preman karena biasanya digunakan oleh para Prokem (sebutan untuk para preman) sebagai kata sandi yang hanya dimengerti oleh kelompok mereka sendiri. Tetapi bahasa prokem tersebut semakin berkembang dan mulai dimengerti oleh kalangan diluar kelompok preman dan anak jalanan karena seringnya mereka menggunakan bahasa sandi tersebut di tempat-tempat umum.
Bahasa gaul atau bahasa prokem terus berkembang dari masa ke masa. Ada sebagian kata yang diperkenalkan sejak tahun 1970an dan hingga kini masih sering dipakai. Namun tidak sedikit kata-kata itu sudah tidak dikenal lagi dan berganti dengan istilah lain yang lebih unik dan aneh. Kata-kata tersebut bisa berasal dari bahasa daerah yang dipelesetkan artinya selain itu terkadang ada kata-kata tertentu diganti atau diubah redaksi katanya agar terdengar unik dan lucu.
Bahasa gaul saat ini memang telah menjadi fenomena dikalangan para generasi muda, bukan hanya dalam kelompok remaja kota tetapi remaja dipelosok pun telah mengenal bahasa gaul ini seakan menjadi sebuah tren di kalangan remaja ataupun dewasa. Sementara dipihak lain, para orang tua dan kalangan dewasa mengeluhkan tata dan tutur bahasa anak-anak mereka yang semakin sulit dimengerti, jauh dari penggunaan tata bahasa yang baik serta terkesan serampangan.
Arus globalisasi dan modernisasi memang tidak selamanya memberikan dampak positif bagi masyarakatnya, akan selalu ada efek negatif dalam proses perkembangan salah satunya bisa jadi bahasa gaul ini. Kita tahu bahwa bahasa gaul berasal dari bahasa-bahasa sandi yang secara sengaja dibuat oleh para kelompok anak jalanan, preman dan waria yang pastinya untuk menghindari orang di luar mereka mengerti apa yang diperbincangkan. Namun, hal tersebut semakin lama semakin berkembang hingga menjadi bahasa gaul seluruh kalangan remaja. Jika hanya sampai disitu mungkin bahasa yang disebut bahasa gaul ini tidak sefenomenal yang kita alami saat ini, tetapi perkembangan teknologi telah menjadi media utama dalam proses penyebaran bahasa gaul. Jejaring sosial yang semakin berkembang saat ini, yang diawali dari sebuah send message short (sms) hingga akun facebook, twitter, dll telah mengiringi penyebaran dan perkembangan bahasa gaul, bukan saja melalui pelafalan tetapi penulisannya pun semakin membingungkan dan terlihat mengerikan, mengapa demikian? Ketika sebuah kalimat terdiri dari penggabungan huruf dan angka tetapi mampu dimengerti oleh mereka,misalnya ingin menuliskan “kemarin kemana aja?”akan ditulis menjadi “k3m4r1n k3m4n3 aj4h? “ bukankah ini merupakan hal yang luar biasa namun sekaligus sangat mengecewakan, ini sebenarnya bukanlah sebuah kebanggaan tetapi kebobrokan generasi muda saat ini yang terbukti suka menyalai aturan dan tidak menghargai bahasanya sendiri. Lingkungan sekolah atau lingkungan pendidikan pastinya akan mengajarkan kepada siswa atau pelajarnya tentang ketatabahasaan yang baik dan benar. Namun kenyataannya para pelajar tersebut tetap keluar dari penggunaan bahasa yang baik dan benar. Banyak yang mengatakan penggunaan bahasa Indonesia yang diajarkan disekolah atau lingkungan pendidikan terkesan kaku dan formal, akhirnya para remaja mencoba keluar dari kekakuan bahasa ini yaitu menggunan bahasa gaul. Mengingat semakin berkembangnya arus komunikasi, maka siswa telah mengesahkan pemakaian bahasa gaul di setiap situasi dan tidak memperhatikan keadaan dengan siapa dan dimana mereka menggunakan bahasa tersebut, kalau hal itu sampai dibiarkan terus terjadi, maka sikap kesopanan bahasa sebagai bentuk kesopanan terhadap oang yang lebih tua sering terabaikan. Kurangnya kesadaran untuk mencintai bahasa di negeri sendiri berdampak pada lunturnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya dalam masyarakat terutama di kalangan remaja. Apalagi maraknya kalangan artis menggunakan bahasa gaul di media massa dan elektronik, membuat remaja semakin sering menirunya di kehidupan sehari-hari hal ini sudah menjadi hal wajar karena remaja umumnya suka meniru hal-hal yang baru terlebih jika menyangkut kehidupan para publik figur. Menyesuaikan bahasa dengan lingkungan dan kelompok apa lawan bicara kita merupakan hal utama dalam menjalin komunikasi yang baik, karena bagaimanapun fungsi bahasa adalah sebuah media untuk menyampaikan pesan antar komunikan dan komunikator.
Sekalipun demikian, bahasa persatuan bangsa kita adalah bahasa Indonesia bukan bahasa gaul maka mulailah dari diri sendiri untuk membudayakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam lingkungan.
C. Dampak Dari Penggunaan Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja
Bahasa gaul adalah Bahasa non resmi yang digunakan oleh kalangan tertentu ,sifatnya sementara,bahasa gaul digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelmpok usia lain agar pihak lain tidak mengetahui apa yang sedang di bicarakan. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para anak jalanan. Disebabkan dari arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Masa remaja memiliki karakteristik antara lain petualangan, pengelompokan, dan kenakalan. Ciri ini tercermin juga dalam bahasa mereka. Keinginan untuk membuat kelompok eksklusif menyebabkan mereka menciptakan bahasa rahasia. Serta Banyak diantara kalangan remaja menggunakan bahasa Gaul dan sering menyingkat kata-kata dalam kehidupan sehari-hari.Hal tersebut membuat Peranan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar sedikit bekembang baik dari segi budaya dan perilaku . Para responden mengakui bahwa penggunaan bahasa gaul hanya digunakan oleh teman-teman sebayanya dan orang-orang terganggu. Pasalnya,Banyak remaja dimasa sekarang mengikuti zaman yang semakin disekitar yang sering menggunakan bahasa gaul saat berbicara. Para responden hanya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dengan orang yang lebih tua. Pengaruh Bahasa Gaul terhadap tatanan bahasa Indonesia adalah perkembangan jaman modernisasi ,dimana segala hal yang ada dikalangan pelajar yang selalu ter up-to date. Tren penggunaan bahasa gaul yang diilhami dari pelaku tokoh masyarakat misalnya artis. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Indonesia yang di campur dengan bahasa inggris yang bertujuan agar seseorang dianggap modern. Maraknya penggunaan bahasa gaul dalam pesan singkat,hal ini secara tidak langsung mempengaruhi penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dikalangan remaja Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih Cpendek seperti ‘permainan-mainan, pekerjaan-kerjaan.
C. Faktor – Faktor Pendukung Maraknya Penggunaan Bahasa Gaul di Kalangan Remaja
Perkembangan bahasa Gaul di kalangan remaja sangatlah cepat karena didukung oleh beberapa faktor yang cukup berpengaruh terhadap kondisi lingkungan remaja. Antara lain :
Menjamurnya internet dan situs-situs jejaring sosial yang berdampak signifikan terhadap perkembangan bahasa gaul. Misalnya, facebook, twitter, friendster. Karena pengaruh lingkungan. Umumnya para remaja menyerap dari percakapan orang-orang dewasa di sekitarnya, baik teman sebaya atau keluarga. Peran media (elektronik) yang menggunakan istilah bahasa Gaul dalam film-film khusunya film remaja dan iklan, semisal dari adegan percakapan di televisi. Bahasa gaul tidak hanya dari kontak langsung, tapi sebagian besar karena “disuapi” oleh media. Media cetak, misalnya bahasa yang ada dalam majalah, surat kabar, koran, cerpen atau novel yang umumnya menggunakan bahasa gaul.
Dampak perkembangan zaman, di mana segala hal yang ada di lingkungan kita harus selalu ter up-to date. Dilihat dari cara bertutur kata atau dalam pemakaian bahasa, dewasa ini munculnya “Bahasa Gaul” sangat fenomenal terutama terlihat pada kalangan masyarakat (remaja). Mereka ingin diakui sebagai remaja jaman sekarang yang gaul, funky, dan keren.
D. Solusi Mengatasi Pergeseran Bahasa Indonesia dari Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja
Pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan nyata maupun fiksi mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa gaul. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan bahasa indonesia sebagai identitas bangsa. Dalam upaya untuk mengurangi pemakaian bahasa gaul sebagai alat komunikasi dalam masyarakat diperlukan suatu strategi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut, diantaranya sebagai berikut:
1. Kepedulian pemerintah terhadap perkembangan bahasa Indonesia Kadang-kadang bahasa yang disuluhkan oleh pembicara dari pusat bahasa tidak dipedulikan oleh pemerintah negeri kita. Oleh karena itu, terdapat kontroversi anatara norma bahasa yang dikumandangkan oleh pusat bahasa dengan kenyataan di lapangan. Kiranya sifat eksklusivisme dalam penggunaan bahasa Indonesia sebaiknya dipertimbangkan kembali. Kepedulian pemerintah bukan saja kemudahan mendapatkan fasilitas, melainkan juga kepedulian dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Jika kepedulian pemerintah baik di pusat maupun di daerah dapat ditingkatkan, pembinaan dan pelestarian bahasa Indonesia dapat kita wujudkan. Salah satu yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah perlunya merancang undang-undang tentang pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar serta melakukan pengindonesiaan nama atau kata asing.
2. Kesadaran diri untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar Pepatah lama mengatakan, “bahasa menunjukan bangsa”, maka untuk mengetahui dan mewujudkan identitas bangsa, kita harus menjunjung tinggi bahasa nasional. Untuk mengatsi pergeseran bahasa Indonesia yang sudah parah diperlukan usaha bersama oleh semua pihak agar menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Sebagai generasi muda kita harus menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia. Banyak bangsa lain yang merasa iri dan terkagum-kagum terhadap bangsa kita karena memiliki bahasa persatuan yaitu Indonesia. Ini merupakan salah satu jati diri asli bangsa Indonesia. Maka dari itu, kita harus menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kesadaran tersebut harus kita tanam mulai dari diri kita. Akhirnya marilah mulai tumbuhkan kembali kesadaran dalam diri masing-masing untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baku tanpa mencampuradukan dengan bahasa asing.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara umum, Penggunaan bahasa alay terutama digunakan oleh anak ABG atau remaja. Para remaja biasanya menggunakan bahasa alay ini dalam ragam lisan dan ragam tulis, atau juga dalam ragam berbahasa dengan menggunakan media tertentu, misalnya, berkomunikasi dalam jejaring sosial. Juga berdampak negatif terhadap bahasa indonesia karena lambat laun dapat menggeser bahasa kesatuan yaitu bahasa Indonesia.
B. Saran
Dari kesimpulan di atas, para remaja dan anak muda harus bisa menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidahnya dalam kehidupan sehari-hari agar bahasa Indonesia tetap terjaga dan tidak bergeser secara perlahan.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.kompasiana.com/mertamupu.co.id/5519fe30a33311f51db6592a/pro-kontra-bahasa-alay
Komentar
Posting Komentar